GP Ansor : #2019GantiPresiden Merupakan Gerakan Politik Orang Frustasi dan Bingung

GP Ansor : #2019GantiPresiden Merupakan Gerakan Politik Orang Frustasi dan Bingung

Tribunsantri.com - Deklarasi gerakan #2019GantiPresiden yang digelar di Surabaya mendapat penolakan dari sejumlah kelompok masyarakat.

Di barisan kelompok yang menolak gerakan yang memecah belah itu, terdapat sejumlah orang yang menggunakan atribut Barisan Ansor Serbaguna atau Banser.

Menanggapi hal itu, ketum PP GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qoumas menegaskan, secara institusional Ansor dan Banser tidak ikut dalam aksi itu dan tidak pernah mengeluarkan instruksi untuk terlibat.

Baca juga : Deklarasi #2019GantiPresiden Ditolak Dimana-mana, Mardani Sebut Negara Kalah Oleh Preman, Ini Kata Kubu Pemerintah

Namun kalau ada kader Ansor ikut dalam aksi tersebut atas nama pribadi, dia tidak melarangnya.

"Secara institusi tidak ada instruksi. Tapi memang ada kader-kader yang ikut menolak gerakan tersebut secara pribadi. Kalau pribadi, ya kita bebaskan saja. Toh kader Banser dan Ansor pasti sudah tahu mana yang baik dan tidak bagi bangsa ini. Mereka memiliki pertimbangan yang matang untuk terlibat atau tidak," kata Gus Yaqut. 

Terkait kehadiran sejumlah orang yang beratribut Banser di lokasi aksi, Gus Yaqut akan melelakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah betul mereka anggota Banser.

"Soal ada Banser yang turun di Surabaya seperti yang diberitakan, kita akan cek. Mereka benar Banser atau tidak. Masih aktif atau aktif hanya ada momentum-momentum tertentu saja? Saya sudah perintahkan Kasatkornas Banser untuk cek di lapangan," katanya.

Gus Yaqut melanjutkan, pihaknya masih akan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah orang beratribut Banser yang hadir di lokasi aksi. Dan akan mengambil tindakan sesuai dengan hasil pemeriksaan di lapangan.

"Nah ini nanti kita akan kategorisasikan untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Tunggu saja," lanjutnya.

Sementara itu, menanggapi gerakan #2019GantiPresiden, Gus Yaqut mengatakan, bahwa hal itu merupakan gerakan politik orang yang frustasi, bingung dan tidak tahu harus melakukan apa untuk menghadapi pertahana.

"Sementara ini, kami masih melihat ini hanya gerakan politik saja dari orang-orang yang frustasi, bingung, nggak tahu akan menggunakan narasi apa melawan petahana," ujarnya. 

Namun, dia tidak mau ikut memperdebatkan apakah gerakan itu sesuai konstitusi atau tidak, sebab untuk mengukur apakah suatu gerakan disebut makar atau tidak menjadi ranah pakar dan ahli hukum..

"Tapi dalam pandangan saya, gerakan #2019GantiPresiden ini gerakan banci. Nggak jelas kelaminnya. Mau diganti dengan apa? Kalau presiden diganti presiden, kan sudah jelas, siapa lawan petahana sekarang. Kenapa nggak sekalian saja, #2019PresidennyaPrabowo, misalnya. Jangan-jangan memang agenda lain yang diselipkan dalam gerakan tersebut," tandas Gus Yaqut. 

"Tidak perlu memaksakan diri sehingga seolah-olah mereka menjadi korban dari sistem. Korban dari kekuasaan, lalu playing victim. Rakyat yang sudah cerdas ini jangan dibodohkan lagi dengan gerakan-gerakan yang nggak ada untungnya bagi bangsa dan negara," pungkasnya. (Tribunsantri.com/detikcom)

Bagikan: