Ini Kata Psikolog Soal Dampak Penggunaan Tik Tok Bagi Anak Dan Remaja


Ini Kata Psikolog Soal Dampak Penggunaan Tik Tok Bagi Anak Dan Remaja
Foto: Shutterstock

Tribunsantri.com
- Tik Tok merupakan aplikasi yang belakangan ini menjadi perbincangan banyak kalangan, mulai dari para orang tua, pegiat perlindungan anak, psikolog sampai dengan para artis.


Hal ini, lantaran aplikasi yang digunakan anak-anak dan remaja tersebut mengandung banyak konten negatif.

Oleh karenanya, setelah mendapat banyak laporan dari masyarakat, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bergerak cepat dengan memblokir aplikasi asal cina tersebut.

Tik Tok sangat populer karena digunakan para remaja dan anak-anak untuk berekspresi. Namun harus diketahui ternyata Aplikasi yang pernah disebut sebagai Aplikasi Goblok tersebut mempunyai dampak negatif bagi psikologis anak.

Hal itu dikatakan oleh psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi, seperti dikutip dari Detikcom.

"Kalau secara psikologis efeknya macam-macam, walau tidak sama di setiap anak," kata Ratih.

Oleh karenanya, Kata Ratih, perlu diadakan kajian terhadap anak dan remaja yang menggunakan Tik Tok. Hal ini untuk mengetahui lebih pasti dampak penggunaan aplikasi tersebut terhadap psikologis mereka.

Diantara hal yang perlu diperjelas, menurut Ratih, adalah motivasi seorang remaja atau anak menggunakan Tik Tok, apakah karena senang mendapatkan perhatian atau hanya sebagai sarana berekspresi.

Lepas dari itu semua, Aplikasi Tik Tok memang tidak ramah anak karena di dalamnya terdapat grup dan komunitas yang berisi orang asing. 

"Yang paling bahaya itu bisa bikin group chat yang isinya orang tidak dikenal. Dan rentang usianya beragam, mulai dari yang masih muda banget sampai yang sudah remaja akhir," ujar Ratih.

Sebagaimana sudah diketahui, bahwa perkenalan di sebuah grup atau komunitas biasanya dipanjutkan dengan percakapan melalui chating pribadi.

Tentu, tidak menutup kemungkinan jika dalam chat pribadi tersebut ada anak yang masih di bawah umur mengirim foto bertelanjang dada kepada teman chatnya yang dikenalnya melalui grup atau komunitas tadi.

Sementara itu, terkait dengan pemblokiran Tik Tok oleh Kominfo, Ratih mengatakan, tindakan Kominfo tersebut hanya merupakan cara mudah yang memang seharusnya dilakukan pemerintah. 

Akan tetapi, perlu diingat bahwa konten dan layanan yang sama dengan Tik Tok banyak ditemukan dibeberapa Platform. Tik Tok hanyalah salah satu dari aplikasi dari sekian banyak aplikasi sejenis. 

Menurut Ratih, sebenarnya pemerintah bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar memblokir sebuah aplikasi, yaitu dengan membentuk sistem kontrol yang baik. Sebab sudah bukan rahasia lagi, anak-anak dan remaja sekarang ini banyak mengenal aplikasi yang sama sekali tidak sesuai dengan umurnya. 

Kalau dilihat dari peraturan yang dicantumkan pada Tik Tok, sebenarnya aplikasi tersebut memiliki batasan usia minimal 16 tahun untuk orang yang menggunakannya.

Tetapi, kenyataan di lapangan banyak anak berusia 8 tahun yang sudah akrab dengan Tik Tok.
Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah peran orang tua di dalam mengawasi anaknya agar jangan dibiarkam mengakses hal-hal yang negatif. 

Sebab, apa pun yang diakses seorang anak juga merupakan kesalahan orang tuanya yang memanjakan anaknya menggunakan gedget.

Salah satu contoh bentuk pengawasan orang tua terhadap penggunaan gedget oleh anaknya adalah dengan membuat kesepakatan bahwa si anak tidak boleh mengakses hal yang negatif.

"Harus ada kesepakatan ketika ingin main sosmed. Misalnya, orang tua harus jadi teman anak di sosmed," tutup Ratih. 

Bagikan: