Novanto Punya Jaringan Kuat, KPK Harus Gerak Cepat



Novanto Punya Jaringan Kuat, KPK Harus Gerak Cepat

TRIBUNSANTRI.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  kalah dalam praperadilan penetapan tersangka ketua DPR RI Setya Novanto (Setnov)  Namun KPK menetapkan kembali Setya Novanto sebagai tersangka.  

Dan saat ini,  Setnov kembali mengajukan praperadilan untuk kedua kalinya.  Dalam menghadapi Setnov ini,  KPK diharapkan mempunyai bukti yang kuat agar menang dalam sidang praperadilan atas status tersangka kasus dugaan korupsi E-KTP.

Ketua Gerakan Muda Partai Golkar (GMPG)  Ahmad Doli Kurnia berharap KPK bisa mengambil pelajaran dari kekalahan pada praperadilan pertama yang diajukan Setnov.  

"Jadi ya mudah-mudahan KPK untuk menghadapi praperadilan itu, memang betul-betul siap," katanya dalam diskusi publik Persatuan Gerakan bertajuk 'Korupsi E-KTP 2,3 T... Siapa Susul Setnov' di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (29/11). 

Dari awal, Doli memang sangat lantang bersuara agar KPK melakukan langkah-langkah yang lebih taktis,  cepat dan cerdik. Hal itu diharapkan Doli agar kasus yang menjerat Setnov itu segera dilimpahkan ke pengadilan.  Dengan demikian praperadilan yang fiajukan Setnov menjadi gugur dengan sendirinya. 

"Karena yang mereka hadapi ini adalah orang yang selama ini mampu memanfaatkan posisi politiknya secara maksimal. Dia pergunakan posisinya sebagai Ketua DPR, sebagai Ketua Umum Golkar, dia posisi kan sebagai orang yang selama ini punya jaringan di peradilan," jelasnya.

Doli menegaskan,  Setya Novanto tidak akan berani mengajukan praperadilan jika dirinya tidak yakin menang.  Praperadilan pertama cukup menjadi bukti bahwa Setnov mempunyai pengaruh politik yang kuat.  

"Dia hitung dulu, dia susun langkah-langkahnya, dia gebuk dulu KPK melalui Pansus, dia susupi KPK melalui Aris Budiman, dalam tanda petik Johanes Marliem "hilang" dulu, baru begitu matang dia masuk praperadilan," urainya.

"Saya khawatir juga begini besok itu. Dia tak akan maju kalau dia tak yakin dia menang. Kalau itu yang terjadi, walaupun mungkin manuvernya bisa lebih terbatas dibandingkan yang kemarin karena sudah ditahan. Tapi kan jaringannya masih sudah bekerja,” lanjut Doli.

Dipertegas soal apa dan siapa dibalik jaringan yang sudah membuat Novanto  menang itu, Doli enggan merinci.

"Saya tidak akan mengungkapkan, karena cuma hanya bisa tercium tapi kita tidak bisa mengungkapkan. Kalau kita ungkapkan nanti bisa dibilang pencemaran nama baik dan segala macam,” jelasnya.

Doli juga kembali mengulas soal dulu pernah mendatangi gedung Mahkamah Agung (MA) untuk mengkonfirmasi dugaan pertemuan antara Setya Novanto dengan Ketua MA Hatta Ali. 

"Dulu kan saya teriak-teriak, datang ke Ketua MA, datang mempertanyakan mengklarifikasi soal pertemuan Setya Novanto dengan Ketua MA yang kita dapat informasi membahas bagaimana Setya Novanto lolos di praperadilan. Tapi kan ga dijawab tapi tiba-tiba menang. Apakah memang sudah separahkah hukum ini sehingga hukum bisa direkayasa dan diatur-atur," sesalnya.

Tak lupa, berharap hakim praperadilan Novanto yang kedua, Hakim Kusno menggunakan hati nuraninya dalam menangani perkara itu.

"Kita kembali ke hati nurani hakim. Masa ia peradilan kita ini mau di permainkan terus menerus oleh satu dua orang. Apakah memang lembaga peradilan kita memang sudah sebobrok itu kah," pungkasnya.[rmol]

Bagikan: