Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KOMPLIKASI KRONIK DIABETES : NEFROPATI DIABETIK - GAGAL GINJAL TERMINAL




  Salah satu komplikasi kronik yang disebabkan oleh diabetes adalah Nefropati Diabetik yang  dalam perjalanannya dapat menjadi Gagal ginjal terminal (Gagal ginjal kronik stadium akhir ).
Sekitar 25 - 40 % penyandang diabetes akan mengalami Nefropati diabetik .
Jika pada pemeriksaan air seni / urine diabetisi pada laboratorium  ditemukan adanya albumin  mikro ( protein ) pada 2  - 3 kali pemeriksaan pada kurun waktu 3 - 6 bulan ,dengan kadar > 30 mg dalam urine 24 jam tanpa ditemukan penyebab yang lain, maka ini merupakan Nefropati Diabetik yang harus ditangani dengan baik agar tidak berlanjut menjadi  gagal ginjal kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar albumin makro > 300 mg dalam urine 24 jam.

Itu sebabnya pada setiap pasien yang baru didagnosa dengan diabetes, maka dokter  perlu melakukan pemeriksaan penapisan di laboratorium untuk melihat ada / tidaknya albumin di dalam urine (albuminuria ).
Jika ditemukan positif maka diabetisi akan mendapat penanganan yang lebih khusus sambil mencari apakah ada faktor penyebab yang lain selain diabetes pada pasien tersebut ( infeksi ginjal, batu ginjal dll )
jika ditemukan  masih negatif, akan dilakukan evaluasi  ulang setiap tahunnya.
Hal ini penting dilakukan untuk mencegah keadaan berlanjut menjadi komplikasi yang lebih berat.

   APA SEBENARNYA PENGARUH  DIABETES TERHADAP GINJAL ?
Diabetes dapat menyebabkan gangguan pada pembuluh darah di seluruh tubuh termasuk pembuluh darah kecil di glomerulus ( piala ginjal ).
Fungsi glomerulus adalah menyaring berbagai zat yang dibutuhkan tubuh agar tidak dikeluarkan dan juga mengeluarkan berbagai zat sisa metabolisme tubuh yang tidak diperlukan tubuh lagi ,untuk dibuang.
 Selain itu ginjal juga berfungsi mengatur keseimbangan air dan elektrolit di dalam tubuh. Karena itu jika fungsi ginjal sebagai penyaring terganggu ,maka air dan elektrolit akan tertumpuk di dalam tubuh dan dapat menyebabkan tertimbunnya cairan dalam tubuh sehingga menjadi bengkak / oedem.
Elektrolit  yang tertumpuk juga dapat menyebabkan gangguan yang membahayakan tubuh terutama Kalium, seperti contohnya gangguan irama jantung.

 Protein dalam keadaan tubuh normal tidak dikeluarkan atau hanya sedikit sekali dikeluarkan  oleh ginjal .Pada keadaan gangguan fungsi ginjal sebagai alat penyaring, maka protein akan banyak dikeluarkan dari tubuh sehingga itu sebabnya dalam pemeriksaan laboratorium ditemukan banyak protein (albumin ) di dalam urine.
Sisa metabolisme protein ini akan tertimbun terutama dalam bentuk ureum dan kreatinin.Jika penimbunannya sangat tinggi dalam tubuh, maka diabetisi akan mengalami gejala lemas, mual, muntah bahkan sampai terjadi penurunan kesadaran (koma ). Kalau kondisi ini telah terjadi maka fungsi ginjal yang sudah terganggu /gagal sebagai alat penyaring tubuh ini harus digantikan oleh alat cuci darah (hemodialisa ) atau dilakukan transplantasi ginjal.

   Di tengah masyarakat seringkali beredar mitos yang mengatakan bahwa obat- obatan diabetes yang diberikan dokter dapat menyebabkan kerusakan ginjal.Padahal perjalanan penyakit diabeteslah yang dapat menyebabkan terjadi komplikasi gangguan ginjal pada seorang diabetisi.Itu sebabnya pengendalian terhadap kadar glukosa darah sangatlah penting.Berikut ini hal- hal penting yang harus ditangani dengan baik untuk mencegah komplikasi terhadap ginjal ( atau jikapun telah terjadi komplikasi, agar tidak jatuh kepada perburukan ) :
1. Pengendalian kadar glukosa darah
2. Penanganan dislipidemia / hiperkolesterolemia.
3. Pengendalian hipertensi. Diabetisi diupayakan memiliki tekanan darah terkontrol <  130 / 80 mmHg.
4. Berhenti merokok.

Jika seorang diabetisi telah mengalami gangguan terhadap ginjalnya maka dokter / ahli gizi akan mengatur kembali perencanaan makan sehari- hari kepada diabetisi ( diet ginjal ) dengan pembatasan terhadap jumlah protein yang dikonsumsi. Mengatur pemilihan obat- obatan,menyesuaikan dosis obat- obatan/suntikan insulin yang diberikan dan pemberian semua edukasi yang diperlukan.

MENCEGAH SELALU LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI.